7 Jenis Jangkrik Untuk Pakan Ikan Hias
Jangkrik merupakan serangga yang sering ditemukan di lingkungan sekitar, terutama di area perkebunan atau sawah. Mengapa jangkrik begitu dibutuhkan di zaman sekarang? Karena serangga satu ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok binatang peliharaan yang sangat menyehatkan, di dalamnya terkandung protein hewani yang sangat bagus buat pertumbuhan hewan peliharaan seperti burung, ikan arwana, sugar glider, musang atau hewan pemakan jangkrik lainnya. Jadi tak heran apabila para hobis berbondong-bondong ingin membeli jangkrik.
Mengingat manfaat yang dimiliki jangkrik sangat banyak dan permintaan pasar yang tinggi, maka siapapun yang ingin menekuni usaha ternak jangkrik bisa sukses dan meraih keuntungan yang besar.
Nah berikut ini adalah jenis jangkrik yang dimanfaatkan untuk pakan ikan hias
1. Jangkrik Kalung
Jenis ini memiliki nama latin Gryllus Bimaculatus, tapi kadang dipanggil jangkrik genggong. Ukuran tubuh jangkrik kalung ini tergolong kecil, namun suaranya tidak bisa diragukan. Jangkrik kalung sangat aktif untuk mengeluarkan suara, bahkan bisa mengganggu waktu tidur. Dengan suaranya tersebut, jangkrik kalung ini juga bisa memanfaatkan suaranya untuk mengusir tikus. Selain itu, jenis jangkrik ini juga bagus dijadikan sebagai makanan ikan.
Ciri khas jangkrik kalung adalah mempunyai lingkaran putih di sekitar area lehernya. Lingkaran ini kemudian akan berubah warna menjadi kuning seiring bertambahnya usia jangkrik kalung. Ketika jangkrik kalung bertambah usia, bagian leher dan kakinya akan menjadi keras. Kaki jangkrik kalung juga akan berubah warna menjadi hitam ketika sudah dewasa.
2. Jangkrik Upa
Diantara jenis-jenis jangkrik berikutnya adalah upa yang mempunyai ukuran kecil. Jangkrik ini diberi nama upa sebab ukurannya yang kecil dan berwarna putih diibaratkan seperti sebutir nasi. Umumnya jangkrik upa hidup bebas di sekitar rumah, terutama di tembok bata. Jenis jangkrik yang satu ini tidak cocok untuk dijadikan sebagai pakan hewan, sebab baunya tergolong menyengat.
Jangkrik upa mempunyai suara yang tidak terlalu nyaring. Kicauan jangkrik ini biasanya terbata-bata, namun dengan durasi yang lama, sehingga cukup berisik. Jangkrik upa mudah juga untuk ditemukan di area perkebunan atau tempat lain yang bernuansa lembang. Jenis jangkrik yang satu ini bisa menghasilkan hingga 100 butir telur dalam sekali proses perkembang biakan.
jangkrik yang mempunyai bentuk seperti belalang ini sebenarnya mudah untuk dibudidayakan. Namun, sayangnya jangkrik upas sepi peminat, sehingga biasanya dibiarkan hidup secara liar. Habitat asli jangkrik upa adalah di sekitar wilayah Sumatera hingga pulau Jawa bagian barat.
3. Jangkrik Kidang
Jangkrik kidang dulunya sangat langka karena sering diburu manusia. Namun sekarang sudah mulai dibudidayakan kembali. Jangkrik kidang inilah yang menjadi primadona karena ia mengandung protein yang sangat banyak dan dibutuhkan burung kicau atau hewan peliharaan lainnya. Habitat aslinya berada di persawahan atau ladang luas yang lembab.
Jangkrik kidang juga bisa mengeluarkan suara nyaring apalagi saat musim kawin, mereka akan saling bersahutan untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Selain itu jangkrik kidang juga tidak membutuhkan masa panen yang lama, cukup satu bulan sudah bisa dipanen. Sebagian orang memelihara jangkrik kidang ini untuk diadu. Namun tidak kami sarankan, karena masih ada manfaat lain dari jangkrik kidang ini yaitu sebagai pakan dan alternatif obat.
4. Jangkrik Jaliteng
Jenis jangkrik yang selanjutnya mempunyai nama cukup unik, yaitu jaliteng. Nama jaliteng diberikan karena jangkrik ini mempunyai wanra hitam mengkilat dan tinggal di tempat lembab. Terdapat perbedaan tampilan fisik antara jangkrik jaliteng yang jatan dan betina. Jangkrik jaliteng betina mempunyai warna kecoklatan di bagian ujung kaki. Warna inilah ciri khusus untuk membedakan antara jangkrik jaliteng jantan dan betina.
5. Jangkrik Gangsir
Para pemelihara ikan maupun burung tentu tidak asing lagi dengan jenis jangkrik gangsir. Jangkrik yang satu ini banyak dimanfaatkan sebagai pakan burung kicau, terutama untuk persiapan kontes. Jenis jangkrik gangsir mempunyai warna coklat kehitaman pada bagian punggung. Bentuk fisik jangkrik gangsir lebih lebar jika dibandingkan dengan jenis yang lainnya.
Ukuran jangkrik gangsir lebih besar dan kokoh dibandingkan dengan jenis lainnya. Jangkrik gangsir ini akan terlihat lebih aktif pada waktu tertentu saja, yaitu saat musim penghujan. Pada musim hujan jangkrik gangsir akan mulai bersuara nyaring dan memulai proses perkembang biakan. Jumlah telur yang bisa dihasilkan dalam sekali proses perkembangbiakan jangkrik gangsir adalah 70 butir.
6. Jangkrik Jerabang
Jangkrik jerabang berlawanan dengan jeliteng, jerabang lebih didominasi warna abang (merah). Ia bertubuh kokoh namun tidak pemberani, suaranya nyaring agak ampang, kurang gesit tetapi mudah dipelihara. Jangkrik dengan nama ilmiah Gryllus domesticus ini berwarna merah bata sedikit mengkilap. Ukuran tubuhnya sedang dan bisa dibilang lebih kecil dari ukuran tubuh jangkrik jeliteng. Jerabang juga banyak diminati karena cocok dijadikan sebagai pakan burung dan ikan hias.
7. Jangkrik Alam
Jangkrik alam suka tinggal di daerah lembab seperti sawah, ladang, samping rawa dan lainnya. Jangkrik ini banyak yang membudidayakannya, karena memang cara mengetahui siklus hidup jangkrik tidaklah sulit dan mereka cuman butuh waktu 28 hari saja untuk panen. Hewan ini juga cocok sebagai pakan burung ataupun ikan.
Ciri-ciri jangkrik ini memiliki warna kekuningan dan sedikit abu, dan kalau di Indonesia ada yang sering kali menyebutnya dengan jangkrik karet. Kalau sudah pertengahan musim hujan biasanya pejantan akan mengeluarkan suara khas untuk menarik si betina bertujuan kawin dan hasilkan sekitar 100 an butir telur.
Itulah 7 jenis jangkrik yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan burung atau mungkin ikan peliharaan kesayangan kalian di rumah.











Posting Komentar untuk "7 Jenis Jangkrik Untuk Pakan Ikan Hias"